Senin, 21 November 2016

Novel Dewasa (++) Part 5


 ketika Ibuku Sekdes Bercumbu Bercinta Dengan Aku Anaknya

Novel Dewasa (++) Part 5 Pada waktu KKN di suatu daerah terpencil di Jawa Tengah (Di suatu desa kecil yang belum terjangkau angkutan dari arah kota, bahkan untuk mencapai jalan raya yang dilalui mobil angkutan, harus berjalan kaki selama 2 jam), kukira warganya masih terbelakang dan kurang pergaulan. Maklum di salah satu dusun, yang dihuni sekitar 100 keluarga, hanya satu yang mempunyai TV dengan menggunakan aki. Tetapi kenyataannya lain. Inilah pengalamanku hidup ditengah-tengah penduduk tersebut, tentu saja pengalamanku di bidang seks. Aku kebetulan menginap di rumah Sekdes, yang ternyata seorang ibu muda aku taksir kurang dari 40 tahun. Langsing, kulitnya mulus dan rupawan. 

Novel Dewasa (++) Part 5 Memang lain dibandingkan dengan penduduk kebanyakan di sekitarnya. Dan yang menjadikan aku sangat bernafsu adalah karena statusnya yang janda beranak satu. Disuatu sore, menjelang malam, ketika baru datang dari kampus untuk konsultasi skripsi, kudapati rumah Mbak Tati (begitulah panggilan Sekretaris Desa yang rumahnya kutempati itu) tampaknya sepi. Badanku basah kuyup, karena kehujanan sepanjang perjalanan kaki dari jalan raya. Aku dorong pintunya dan ternyata tidak terkunci. Aku segera menuju ke kamarku, kulepas semua pakaianku dan kukeringkan dengan handuk. Tiba-tiba ada suara langkah mendekati kamarku, kuintip dari balik korden, Mbak Tati mendekat ke kamarku. “Ini kesempatan,” pikirku. Aku terus mengeringkan kepalaku dengan handuk sehingga mataku tertutup dan pura-pura tidak tahu kalau Mbak Tati mendatangi kamarku. Tanpa kusengaja kemaluanku jadi bertambah besar. 

Novel Dewasa (++) Part 5 Tergantung kesana-kemari ketika tubuhku tergoncang karena gosokan yang keras di kepalaku. Benar saja Mbak Tati menyingkapkan korden, namun aku pura-pura tidak melihatnya, walaupun dari pori-pori handuk aku melihat Mbak Tati dengan raut wajahnya agak terkejut, tetapi dia diam saja. Bahkan sepertinya dengan seksama memperhatikan alat vitalku yang makin lama makin besar oleh tatapan Mbak Tati. Aku pura-pura terkejut ketika kulepas handukku dari kepalaku. “wwwOh, Mbak Tati, kirain siapa,” Aku sengaja membiarkan kemaluanku tidak kututupi, ada perasaan bangga mempertontonkan kemaluanku disaat sedang gagah-gagahnya. 

Novel Dewasa (++) Part 5 Dik Windu, datang kok nggak bilang-bilang,” bicaranya cukup tenang, seakan-akan tidak melihatku aneh. “Iya Mbak, baru datang terus kehujanan.” “Aduh, nanti masuk angin, aku ambilkan minyak angin ya.” “Nggak usah Mbak, takut panas.” “Lha iya biar anget gitu lho.” “Maksud saya, taku panas kalau kena ini, lho Mbak.” “Ah Dik Windu bisa aja, mikiran apa sih kok ngacung-ngacung kayak gitu,” kali ini Mbak Tati mau melihat terpedoku, aku bahagia sekali. “Ih, gede banget sih Dik.” “Pernah aku ukur 17 cm kok Mbak,” Aku berjalan mendekatinya. “Dik Windu bisa aja, pake diukur-ukur segala,” kupegang pundaknya, dan dia diam saja. “Kok sepi Mbak, kemana anak-anak lain.” “Anu.. khan, lagi bertemu Pak Bupati,” tampaknya ia agak gugup dan seperti mau melangkah ke belakang. Tetapi kutahan dia, bahkan ketika kucium pipinya ia diam saja. 

Novel Dewasa (++) Part 5 Kulanjutkan dengan bibirnya, ia juga diam saja. Bahkan memberikan sambutan yang hangat. Kini Mbak Tati yang aktif menciumi tubuhku dengan gemasnya, aku diam saja, dan kulucuti pakaiannya. Ketika kubuka BH-nya, aku tertegun, payudaranya masih kencang dan mulus, ukurannya sedang. Perutnya ramping, cembung di bawah, sedikit di atas jembutnya. Mbak Tati terus menyerangku dengan kecupan-kecupan yang membuatku kelabakan dan jatuh ke tempat tidur karena terdorong oleh kuatnya desakan Mbak Tati yang sudah telanjang bulat itu. Aku hanya bisa memegang payudaranya sambil memijat, mengelus dan memelintir putingnya. 

Novel Dewasa (++) Part 5 Mbak Tati terus mengecup setiap inci dari tubuhku, dadaku, lenganku, perutku dan pahaku. Kejantananku yang sudah sangat keras dipegangnya terus seakan sudah menjadi hak miliknya saja. Dikecupnya ujung kemaluanku, aku mengelinjang kegelian. Namun Mbak Tati tidak meneruskan. Sambil tersenyum manis ia berkata, setengah berbisik, “Nanti saja..” Sambil memeluk dan menciumku dengan hangat dan membalikkan posisinya sehingga aku berada di atasnya. Kini posisiku lebih leluasa, aku bisa pandangi kemolekan tubuh Mbak Tati, setiap senti dari permukaan tubuh itu kuciumi dengan penuh nafsu.beritaseks.com Nafas Mbak Tati makin memburu, lama kutempelkan pipiku pada perutnya. Perasaan senang luar biasa menyelimutiku. 

Novel Dewasa (++) Part 5 Sambil tanganku terus meremas-remas payudaranya. Kuturunkan kepalaku ke bawah, kuciumi paha sebelah dalam Mbak Tati, hingga sampailah ke jaringan lunak yang berada di tengah selangkangannya. Kujilati benda itu, hingga Mbak Tati mendesah kecil sambil mengangkat pantatnya tinggi-tinggi, seakan-akan menginginkan aku menjilatinya. Liang kewanitaan Mbak Tati sudah basah, aku terus menjilati daging kecil yang ada di bagian atas kemaluannya, yang menurutnya bernama “itil” ya mungkin bahasa kerennya ya “klitoris” itu. Setelah jenuh aku menjilati liang kewanitaannya, aku bersiap-siap mengarahkan batang kejantananku ke liang senggamanya, Dengan cekatan ia bimbing batang kejantananku hingga di depan gerbang kewanitaannya. 

Novel Dewasa (++) Part 5 Dengan sekali sentak masuklah kepala burungku. Tampak masih lumayan seret, sehingga tidak semuanya langsung bisa menghujam ke dalam liang kewanitaannya. Setelah beberapa kali maju mundur barulah semuanya tenggelam hingga kurasakan ujung kemaluanku menyentuh dinding kewanitaannya yang paling dalam. Mbak Tati melenguh, menjerit dan makin memelukku dengan kuat. “Terus Dik.. terus Dik.. Tahan Dik, aku.. mau.. keluar, Ohh..” Dia memelukku dengan kuat sambil meluruskan kakinya, hingga batang kejantananku terasa terjepit. 

Novel Dewasa (++) Part 5 Dengan nikmatnya. Hingga akupun tidak tahan lagi membendung air maniku bertahan. Aku segera mencabut kejantananku dan kukocok-kocok hingga muncratlah air maniku di atas perutnya. Beberapa detik kemudian heninglah suasana di kamar itu. Tampaknya hari sudah mulai malam, hujan terus turun dengan derasnya. Namun nafas Mbak Tati yang memburu dan tubuhnya terbaring dengan lunglai. Aku terlentang di sampingnya. Dia segera tertidur dengan kepala di atas perutku, menghadap ke kemaluanku. Akupun tampaknya terlena juga. Pada waktu Mbak Tati membangunkanku, untuk makan malam. Aku memakai piyamaku dan menuju ke ruang makan, Mbak Tati mengenakan daster yang tipis. 

Novel Dewasa (++) Part 5 Ketika kurogoh dari bawah dasternya, ternyata ia tidak memakai celana dalam. Mbak Tati mengelak dengan genit meskipun sempat tersentuh juga. Dalam percakapan selama makan malam, baru kutahu bahwa dia mempunyai anak perempuan yang sedang sekolah di Sekolah Pekerja Sosial di Semarang. Setiap minggu ia pulang ke rumah. Nana, anak Mbak Tati, memang manis dan supel. Pada suatu hari minggu ia memang datang dan aku sempat ngobrol dengan Nana. Waktu itu ibunya sedang ada tugas mendampingi Pak Kades menerima kunjungan anggota DPRD. Saking akrabnya aku ngobrol dengan Nana, hingga tidak canggung-canggung lagi ia masuk keluar kamarku maupun sebaliknya. Bahkan ketika Nana memintaku untuk membuat salah satu tugas teks pidato, aku tanpa sungkan-sungkan masuk ke kamarnya. Secara tidak sengaja aku menemukan amplop kecil di atas meja belajarnya. Ketika kubuka ternyata gambarnya adalah gambar porno kategori XX. 

Novel Dewasa (++) Part 5 Nana cuek saja ketika kuamati gambar-gambar tersebut. Tidak terasa bagian bawahku mulai berontak. Tiba-tiba Nana membungkukkan badan di depanku, sambil ikut melihat gambar-gambar porno tersebut. “Nana, nggak pakai BH lho..” Aku kaget bukan kepalang, mendengar suara manja itu, dan kulihat wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahku. Dan yang lebih dahsyat lagi adalah, dengan posisi menduduk itu maka payudaranya yang bebas tidak terbungkus BH itu tergantung indah. Aku segera meraihnya, sambil kucium bibirnya. Sebagai tindakan naluri dan refleks priaku saja. Nana membalasnya dengan tidak mau kalah lahapnya. Kubuka T-shirtnya, dan kuciumi putingnya yang kecil tetapi panjang, seperti puting ibunya. Dan kulepas semua pakaiannya, terakhir adalah celana dalamnya. Kuraih kemaluannya, jembutnya masih jarang, sehingga belahan liang kewanitaannya yang berwarna merah jambu dapat terlihat dengan jelas. 

Novel Dewasa (++) Part 5 Ia susupkan tangannya ke dalam celana pendekku. Begitu menemukan batang ppenisku yang sudah sangat tegang ia lemas dan menarikku ke tempat tidurnya. Aku melepaskan pakaianku, hingga telanjang bulat. Aku baringkan di tempat tidurku, dengan posisi telentang, memberikan kesempatan bagi Nana untuk menikmati bagian tubuhku yang sangat kubanggakan itu. Benar saja, ia dengan sigap meraih kemaluanku dan mengulumnya, meskipun masih sangat tidak profesional, tetapi kuhargai juga keberaniannya. Barangkali ia hanya ingin mempraktekkan apa yang pernah ia lihat pada foto porno. “Jangan kena kena gigi,” seruku ketika giginya menggesek ujung kemaluanku, yang membuatku nyengir. “Eh sorry, Mas..” Lalu ia jilati seluruh permukaan batang kejantananku, hingga kedua biji penisku tidak luput dari serangan ini. 

Novel Dewasa (++) Part 5 Aku hanya meringis menikmatinya. Setelah tidak ada lagi variasi darinya memperlakukan kemaluanku, kubimbing dia untuk terlentang. Ia menurut ketika kubuka pelan-pelan pahanya, kini dengan jelas liang kewanitaan yang manis bentuknya itu. Ketika kusibakkan, kulihat warna merah menantang, sedangkan lendirnya sudah banyak mengalir ke sprei batiknya. Posisiku sudah siap untuk menyetubuhinya. Batang kemaluanku sudah tepat di depan mulut liang kewanitaannya. “Nan, masih perawan nggak, aku masukin ya?” pintaku. Nana tidak menjawab namun dengan kuat ia menarik bokongku, hingga amblaslah batang kejantananku memasuki wilayah terlarangnya. 

Novel Dewasa (++) Part 5 Memang baru separuh, sempit sekali, aku hampir tidak tega ketika Nana meringis sambil memejamkan matanya. “Kenapa Nan, Mas cabut ya..” “Jangan,” bisik Nana sambil menjepit punggungku dengan kedua kakinya. Kugerakkan maju mundur pelan-pelan, karena sempitnya liang kewanitaannya. Membuat Nana mengeleng-gelengkan kepalanya kekiri dan kekanan hingga sebuah jeritan panjang. Namun segera kuciumi mulutnya agar jeritan itu tidak terdengar tetangga. Orgasme Nana lama sekali, seperti orang kesurupan, kepalanya kupegangi kuat-kuat agar mulutnya tidak lepas dari ciumanku. Sehingga suara jeritan itu tertelan sendiri. 

Novel Dewasa (++) Part 5 Badannya kejang, pelukannya kencang sekali. Akhirnya tumpahlah kenikmatan Nana. Aku sangat gembira bisa memuaskannya. Biarpun maniku belum keluar, aku puas sekali. Nana tertidur, aku segera berpakaian, dan dengan berjingkat ke arah kamarku dekat kamar Mbak Tati. Di depan kamar Mbak Tati kudengar suara, saat kusingkap dan aku terkejut ternyatan ada Mbak Tati. Aku ketakutan dan hampir tidak bisa bicara. 

Novel Dewasa (++) Part 5 Dengan suara seadanya aku mendesis, “Oh, Mbak kok sudah pulang.” Tidak kusangka Mbak Tati tersenyum manis, mendekatiku dan mencium bibirku. “Jangan buat anakku hamil, ya.” “Jadi, Mbak tahu kalau akau habis begituan sama Nana?” “He eh, anak sekarang memang lain dengan jaman saya dulu, baru kenal sudah tidur bareng.” Aku hampir tidak percaya ini, kemaluanku masih belum lemas, karena memang belum keluar. Mbak Tati tahu itu. Ia lepaskan celanaku dan segera dihisap-hisapnya kejantananku dengan lihainya hingga keluarlah maniku ke dalam mulutnya. Mbak Tati tersedak, dan segera menuju dapur meminum air kendi. Aku hanya bengong saja. Lama tidak bergerak dari tempatku berdiri. Kemaluanku tergantung dengan santainya.

Novel Dewasa (++) Part 4


 Adik Iparku Yang Membuatku Tergila-Gila

Novel Dewasa (++) Part 4 Sesampainya di rumah, selesai mandi kukenakan daster tidurku tanpa celana dalam, dan kusemprotkan parfum di tubuhku, siap menanti pria yang akan mengisi kebutuhan seksku. Kulihat kedua anakku sudah tidur pulas. Kemudian kira-kira jam 23:30 kumatikan lampu kamar dan kurebahkan tubuhku di tempat tidur terpisah dari tempat tidur anak-anakku. Sambil tidur-tidur ayam, kunantikan Hery masuk ke kamarku. Sekitar jam 01:00, kulihat pintu kamar yang sengaja tidak kukunci secara perlahan dibuka orang. Kulihat Hery dengan sarung masuk. Setelah ia menutup kembali pintu kamar dan menguncinya, ia menuju tempat tidurku dan langsung menindih tubuhku dan menciumi wajah serta bibirku. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Sambil menciumiku, tangannya menggerayangi vaginaku. Hery berkata, “Wah sudah siap nih ya.. nggak pakai celana dalam..” Tak berapa lama Hery mengangkat dasterku dan mempermainkan klitorisku dan sesekali memasukkan jarinya ke lubang vaginaku, membuatku melayang dan vaginaku cepat banjir. Ternyata Hery juga sudah siap dengan tidak memakai celana dalam. Digesek-gesekannya lontongnya yang sudah mengeras di pahaku sambil jari-jari tangannya mempermainkan vaginaku. Kubalas gerakan Hery dengan meremas-remas dan mengocok lontongnya. Nafsuku semakin naik, begitu juga Hery karena nafasnya terdengar semakin memburu. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Sambil tersengal-sengal, ia melenguh, “Oh.. oh.. Detta.. Hery sudah nafsu.. Detta haus kan.. Hery masukkan ya..” Aku pun sudah tidak tahan, “Oh Ri.. masukkan cepat lontongnya.. Detta sudah nggak tahan.. Ohh Ri..” Kemudian, “Slep..” kurasakan lontong Hery yang lebih besar dan panjang dibandingkan lontong suamiku itu masuk dengan mudah masuk ke dalam lubang vaginaku yang sudah benar-benar basah itu. Kurasakan lontongnya sampai menyentuh dinding vaginaku yang terdalam. “Oh.. Ri.. aduh enaknya Ri.. oh gede Ri..” aku merintih, sambil kupeluk erat tubuh Hery. Kudengar pula rintihan Hery sambil menurun-naikkan lontongnya di dalam vaginaku. “Oh.. oh.. agh.. Detta, enak sekali apem Detta.. oh.. aagh..” Dari cara permainannya, aku merasakan Hery belum berpengalaman dalam hal seks dan kelihatannya baru pertama kali ia berbuat begini. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Mungkin karena begitu nafsunya kami berdua kurang lebih 10 menit menikmati hujaman lontong Hery, aku sudah mau mencapai orgasme. “Oh.. agh.. aduh Ri.. cepatkan tusukannya Ri.. Detta mau keluar.. oh..aagh..” Kurasakan Hery pun sudah mau orgasme. “Oh.. agh.. Mbak, Hery juga mau keluar.. oh.. aaghh..” Tak lama kemudian, berbarengan dengan keluarnya spermaku, kurasakan semburan sperma yang keluar dari penis Hery yang masih perjaka, keras dan berkali-kali memenuhi lubang vaginaku. Kami berdua berpelukan erat merasakan kenikmatan yang tiada taranya ini. Kubisikkan di telinga Hery, “Terima kasih Ri, Mbak puas sekali..” Hery pun berbisik, “Aduh Detta, baru pertama kali ini Hery rasakan enaknya apem.. Detta puas kan..” tambahnya. Kemudian, Hery mencabut lontongnya dari dalam lubang vaginaku. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Aku berusaha menahannya karena aku ingin nambah lagi. Hery berbisik, “Besok-besok aja lagi, sekarang Hery harus keluar.. takut ada orang yang bangun..” Setelah mengecup kening dan pipiku, Hery permisi keluar. Kubisikkan di telinganya, “Hati-hati ya Ri.. jangan sampai ketahuan orang lain..” Walaupun belum begitu puas, tapi hatiku bahagia bahwa Hery akan mengisi kesepian dan memenuhi kebutuhan seksku selama suami di luar kota. Dalam hati aku pun mengucapkan terima kasih kepada suamiku atas ijinnya dan pilihannya yang tepat. Setelah kejadian pertama ini, hubungan seksku dengan adik suamiku ini terus berlanjut. Sayangnya hal ini kami berdua lakukan di rumah, karena saat itu memang tidak pernah terpikir untuk main di luar misalnya di Motel. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Saking puasnya menikmati permainan seks dari Hery, aku lupa akan jadwal kalender KB yang selama ini kugunakan. Sedangkan setiap kali Hery menyetubuhiku, spermanya selalu ditumpahkan di dalam vaginaku. Aku sendiri memang tidak menginginkan sperma Hery ditumpahkan di luar, karena justru merasakan semburan dan kehangatan sperma Hery di dalam vaginaku, merupakan suatu kenikmatan yang luar biasa. Akibatnya setelah beberapa kali melakukan hubungan, aku sempat terlambat 6 hari datang bulan (mens). Hal ini kuceritakan kepada Hery, saat kami mengobrol berdua di paviliun. Khawatir benar-benar hamil, kuminta Hery mengantarku ke dokter untuk memeriksakannya. Pada mulanya Hery tidak setuju, dan ingin mempertahankan kehamilanku. Aku tidak setuju dan tetap ingin menggugurkannya. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Keesokan paginya dengan diantar Hery, aku memeriksakan diri ke suatu rumah sakit bagian kandungan. Ternyata hasil pemeriksaan tidak bisa keluar hari itu juga, dan harus menunggu tiga hari. Sampai dua hari setelah pemeriksaan dokter, ternyata mens-ku masih belum datang. Aku tidak sabar dan khawatir jika ternyata aku benar-benar hamil. Hal ini kuutarakan kepada Hery dan kuminta ia membantu membelikan satu botol bir hitam untukku. Keesokan harinya, Hery menyerahkan bir hitam itu kepadaku, dan malamnya kuminum. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Tiga hari setelah minum bir hitam tersebut, mens-ku datang. Setelah mens-ku selesai sekitar 7 hari, aku dan Hery melanjutkan lagi hubungan seks seperti biasanya. Praktis selama dua bulan ada 18 kali aku dan Hery berhasil melakukan hubungan seks yang memuaskan dengan aman tanpa ketahuan keluarga di rumah. Keinginan untuk melakukannya setiap hari sulit terlaksana, mengingat situasi rumah yang tidak memungkinkan. Dari sekian kali hubungan seksku dengan Hery, seingatku ada tiga kali yang benar-benar sangat memuaskan diriku. Selain kejadian yang pertama kali, hubungan seksku dengan Hery yang sangat memuaskan adalah sewaktu kami berdua melakukan di suatu siang hari dan saat malam takbiran. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Kejadian di siang hari itu, yaitu saat aku selesai mandi dan bersiap-siap berhias diri mau pergi ke kantor. Saat itu kedua mertuaku dan adik-adik iparku yang lain sedang tidak ada di rumah. Yang ada hanya Hery, yang kebetulan sudah pulang dari kantornya, karena hari Jumat. Kedua anakku asyik bermain dengan pengasuhnya. Tanpa sepengetahuanku, saat aku memakai make-up, tiba-tiba Hery masuk kamarku yang tidak terkunci. Setelah menutup pintu kembali dan menguncinya, dari belakang ia memelukku, melepaskan handuk yang membungkus tubuhku, sehingga aku dalam posisi telanjang bulat. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Diciumnya pundak belakangku, sambil tangannya memainkan kedua payudaraku, dan turun mempermainkan vaginaku. Akibatnya, aku tak tahan dan vaginaku cepat basah. Segera kubalikkan tubuhku dan kupeluk serta kulumat bibir Hery dengan penuh nafsu. Kemudian kubuka reitsleting celananya dan kutanggalkan celana panjang dan celana dalamnya. Kemudian aku jongkok di hadapannya, sambil meremas, menjilati, dan mengulum lontongnya dalam mulutku. Setelah kurasakan lontongnya semakin keras, kudorong tubuh Hery duduk di tepi tempat tidur. Kemudian aku berdiri membelakanginya, dan setengah jongkok kupegang dan kuarahkan lontongnya masuk ke dalam lubang kewanitaanku yang sudah basah itu. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Kuturun-naikkan dan kuputar pinggulku untuk merasakan nikmatnya lontong Hery yang telah masuk seluruhnya dalam lubang vaginaku. Sambil bergoyang itu, aku merintih dan berdesah, “Oooh.. aaghh..” Hery tak mau ketinggalan, ia membantu menurun-naikkan pinggulku dan kadang-kadang meremas-remas kedua buah dadaku. Kurang lebih tiga menit dengan posisi ini, terasa aku sudah mau orgasme. Kupercepat gerakan turun naik dan goyangan pinggulku, dan saat itu Hery merintih, “Oh.. oh.. Detta, Hery mau keluar.. oh..” Akhirnya berbarengan dengan keluarnya lendir kenikmatanku, kurasakan lontong Hery menyemprotkan spermanya dengan keras memenuhi lubang vaginaku. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Tubuhku terasa terbang merasakan semprotan yang hangat dan nikmat itu. Kemudian kukeluarkan lontong Hery dari lubang vaginaku. Kulihat masih cukup keras. Dengan penuh nafsu kujilati, kuhisap lontong Hery yang masih basah diselimuti campuran sperma kami berdua. Tak berapa lama kemudian lontong Hery kembali keras. Kemudian kuminta Hery menyetubuhiku dari belakang. Dengan menopangkan kedua tanganku di atas meja hias dan posisi menungging, kusuruh Hery memasukkan lontongnya ke dalam lubang vaginaku dari belakang. Betapa nikmatnya kurasakan lontong Hery menghunjam masuk ke dalam lubang vaginaku, kemudian sambil meremas-remas kedua buah dadaku, Hery mempercepat tusukan lontongnya. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Dari cermin yang berada di hadapanku, kulihat gerakan dan ekspresi wajah Hery yang sedang mempermainkan lontongnya di dalam lubang vaginaku. Situasi ini menambah naiknya birahiku. Kurang lebih tiga menit merasakan tusukan-tusukan lontongnya, aku tak tahan ingin orgasme lagi. Aku merintih, “Aduh.. oh.. agh.. Ri, tembus Ri.. aagh.. Detta mau keluar lagi, cepatkan Ri.. oh.. aaghh..” Ternyata Hery pun mau keluar. Ia pun merintih, “Oh.. augh.. Detta, Hery juga mau keluar.. aduh.. Detta.. bareng ya.. oh..” Beberapa saat kemudian, secara bersamaan aku dan Hery mencapai orgasme. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Kurasakan kembali semprotan sperma Hery yang hangat dan nikmat lubang vaginaku. Setelah itu, kami berdua berpelukan dengan mesra. Aku berkata, “Nakal ya..” Hery mencium pipi dan keningku kemudian pamit keluar. Kemudian aku pun keluar ke kamar mandi untuk membasuh vaginaku. Jam 14:00, jemputan mobil dari kantorku datang. Malamnya sesuai janji via telepon, kembali Hery masuk ke kamarku dan menyetubuhiku secara terburu-buru, karena khawatir ada yang memergoki. Walau dalam keadaan terburu-buru, persetubuhanku dengan Hery yang dilakukan setiap dini hari itu, cukup memuaskan, karena paling tidak setiap bersetubuh itu aku bisa orgasme minimal satu kali dan merasakan semprotan sperma Hery di dalam vaginaku. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Selanjutnya, persetubuhanku dengan Hery yang benar-benar memuaskan dan menyebabkan aku lemas tak berdaya adalah saat malam takbiran. Pada malam itu, aku menginap di rumah orang tuaku. Sesuai janji via telepon Hery datang menjengukku. Kami berdua duduk mengobrol merayakan takbiran di rumah. Kedua orang tuaku menyuruhku menawarkan bir kepada Hery. Selesai acara TV, ayahku pergi keluar rumah dan ibuku masuk tidur. Kini di ruang tamu, tinggal aku dan Hery duduk berdua ngobrol sambil menikmati bir sepuas-puasnya. Karena pengaruh bir, kurasakan nafsu seksku mulai naik. Kemudian aku pamit sebentar, melihat kedua anakku sekalian mengecek Ibuku. Aku mengganti bajuku dengan daster dan kutanggalkan celana dalamku. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Setelah kuketahui ibuku sudah pulas tidur dan keadaan aman, aku kembali ke ruang tamu, duduk di sebelah Hery. Tak lama kemudian Hery sudah memelukku, menciumiku sambil bertanya apa ibuku sudah tidur. Mengetahui ibuku sudah tidur, Hery mulai menggerayangi vaginaku dengan jari-jari tangannya sambil melumat bibirku. Aku menggelinjang dan merintih, “Oh.. Ri.. enak sekali.. Ri.. oh terus Ri..” Aku tak mau kalah dan kuremas-remas lontongnya dari luar celana yang membuat lontongnya semakin keras. Kemudian kusuruh Hery berdiri, kubuka reitsleting celana panjangnya dan sekaligus celana dalamnya. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Kulihat dan rasakan lontong Hery lebih keras dan besar dari biasanya. “Aduh.. wow.. kok lebih keras dan besar Ri lontongnya?” Hery berterus terang bahwa sorenya ia minum jamu kuat laki-laki sebagai persiapan untuk memuaskan diriku. Kuhisap, kujilati dan kukulum lontongnya dengan penuh nafsu. Karena tak tahan lagi, kudorong tubuh Hery duduk di sofa. Aku duduk di atas pangkuannya. Kemudian kupegang dan arahkan lontongnya ke dalam vaginaku. “Wow.. aduh Ri.. gede banget dan enak Ri, lontongnya.. aduh.. oohh..” aku mengerang. Sambil kulumat bibirnya, kunaik-turunkan pinggulku agar dapat merasakan gerakan, tusukan dan denyutan lontong Hery. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Sekitar dua menit kugoyang, akhirnya aku mencapai orgasme karena tak tahan merasakan lontong Hery yang lebih keras dan besar dari biasanya. Kemudian kami berdua merubah posisi dengan doggy style. Kurang lebih tiga menit, lagi-lagi aku tidak tahan dan orgasme untuk yang kedua kalinya. Setelah beristirahat sebentar, kami berdua merubah posisi dengan berdiri. Lontong Hery masih keras dan ia belum keluar sama sekali. Lagi-lagi, mungkin karena pengaruh bir dan nafsu yang menggebu, aku mencapai orgasme yang ketiga kalinya. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Dengan masih mempertahankan lontongnya yang keras dan panjang di dalam vaginaku, Hery menggendongku masuk ke kamar tidurku. Direbahkan tubuhku di kasur di atas lantai yang sudah kusiapkan. Masih kurasakan nikmatnyan dan orgasmeku yang keempat kalinya saat Hery menyetubuhiku dengan posisi di atas. Setelah itu aku tak ingat lagi dan menyerah pasrah menerima tusukan-tusukan lontong Hery. Mungkin lebih dari 10 kali aku mencapai orgasme, dan aku tak tahu berapa kali Hery keluar. Saat terbangun kira-kira jam 5 pagi, terasa kepuasan yang amat sangat pada diriku walau kakiku rasanya gontai dan lemas. Kurasakan juga kehangatan sperma Hery yang masih ada di dalam vaginaku. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Tak disangka selingkuhku di malam takbiran dengan Hery adik suamiku adalah yang terakhir, karena beberapa hari kemudian, suamiku sudah kembali ke rumah. Sekembalinya suami di rumah, malam harinya suami mengajakku bersetubuh. Sambil bersetubuh, suami bertanya apakah jadi selingkuh dengan Hery. Karena memang sudah diijinkannya, aku berterus terang mengaku. Pada mulanya suamiku agak marah, mungkin tersinggung, tapi akhirnya ia memaafkanku. Sejak saat itu hubunganku dengan Hery praktis terputus. Namun, Hery masih mencoba mendekatiku dan berusaha mengajakku untuk berhubungan lagi. Hal itu ia lakukan beberapa kali via telepon saat suamiku ke kantor. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Walau sebenarnya aku sendiri masih menginginkannya, namun ajakan Hery tersebut terpaksa kutolak. Selain suasana rumah memang tidak memungkinkan, aku juga khawatir jika suamiku akan marah karena ia belum mengijinkan lagi. Peristiwa perselingkuhanku dengan adik ipar atas saran dan ijin suami menjadi pengalaman yang manis sampai saat ini. Lebih dari itu, jika suami mengungkit-ungkit lagi masalah ini dan minta aku menceritakannya kembali, bukannya marah yang kudapat darinya, malah sebaliknya kasih sayang yang makin besar. 

Novel Dewasa (++) Part 4 Setiap kali akan meniduriku, untuk merangsang dirinya, suamiku selalu meminta aku untuk menceritakan kembali pengalaman selingkuhku dengan adiknya itu. Ia kerap bertanya posisi apa saja yang aku dan Hery lakukan saat berhubungan seks, berapa kali aku klimaks, bagaimana rasanya vaginaku menerima semburan sperma Hery dlsb. Untuk membahagiakannya, kuceritakan semuanya secara jujur. Setiap kali mendengar ceritaku itu, nafsu seks suamiku semakin meningkat dan ia meminta aku mempraktekannya kembali dengan menganggap dirinya sebagai Hery. Terus terang, gairah seksku pun semakin meningkat saat harus membayangkan dan mempraktekan kembali cara-cara hubungan seksku dengan Hery. Ternyata perselingkuhan tidak selalu merusak keharmonisan rumah tangga. Mungkin ada benarnya jika orang menerjemahkan arti kata ‘selingkuh’ sebagai ‘selingan indah keluarga utuh.

Novel Dewasa (++) Part 3


 Tante Hani Yang Membuatku Terlena

Novel Dewasa (++) Part 3 Umurku sudah 30 tahun. Sampai sekarang aku masih hidup membujang, meskipun sebenarnya aku sudah sangat siap kalau mau menikah. Meskipun aku belum tergolong orang yang berpenghasilan wah, namun aku tergolong orang yang sudah cukup mapan, punya posisi menengah di tempat kerjaku sekarang. Aku sampai sekarang masih malas untuk menikah, dan memilih menikmati hidup sebagai petualang, dari satu wanita ke wanita yang lain. Kisahku sebagai petualang ini, dimulai dari sebuah kejadian kira-kira 12 tahun yang lalu. Waktu itu aku masih duduk di kelas 3 SMU. Hari itu aku ada janji dengan Bagus, sahabatku di sekolah. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Rencananya dia mau mengajakku jalan-jalan ke Mall xxx sekedar menghilangkan kepenatan setelah seminggu penuh digojlok latihan sepak bola habis-habisan. Sejam lebih aku menunggu di warung depan gang rumah pamanku (aku tinggal numpang di rumah paman, karena aku sekolah di kota yang jauh dari tempat tinggal orangtuaku yang di desa). Jalan ke Mall xxx dari rumah Bagus melewati tempat tinggal pamanku itu, jadi janjinya aku disuruh menunggu di warung pinggir jalan seperti biasa. Aku mulai gelisah, karena biasanya Bagus selalu tepat janji. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Akhirnya aku menuju ke telepon umum yang ada di dekat situ, pengin nelpon ke rumah Bagus, memastikan dia sudah berangkat atau belum (waktu itu HP belum musim bro, paling juga peger yang sudah ada, tapi itupun kami tidak punya). “Sialan.. telkom ini, barang rongsokan di pasang di sini!,” gerutuku karena telpon koin yang kumasukkan keluar terus dan keluar terus. Setelah uring-uringan sebentar, akhirnya kuputuskan untuk ke rumah Bagus. Keputusan ini sebenarnya agak konyol, karena itu berarti aku berbalik arah dan menjauh dari Mall xxx tujuan kami, belum lagi kemungkinan bersimpang jalan dengan Bagus. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Tapi, kegelisahanku mengalahkan pertimbangan itu. Akhirnya, setelah titip pesan pada penjual di warung kalau-kalau Bagus datang, aku langsung menyetop angkot dan menuju ke rumah Bagus. Sesampai di rumah Bagus, kulihat suasananya sepi. Padahal sore-sore begitu biasanya anggota keluarga Bagus (Papa, Mama dan adik-adik Bagus, serta kadang pembantunya) pada ngobrol di teras rumah atau main badminton di gang depan rumah. Setelah celingak-celinguk beberapa saat, kulihat pembantu di rumah Bagus keluar dari pintu samping. “Bi.. Bibi.. kok sepi.. pada kemana yah?” tanyaku. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Aku terbilang sering main ke rumah Bagus, begitu juga sebaliknya Bagus sering main ke rumah pamanku, tempatku tinggal. Jadi aku sudah kenal baik dengan semua penghuni rumah Bagus, termasuk pembantu dan sopir papanya. “Eh, mas Dito.. pada pergi mas, pada ikut ndoro kakung (juragan laki-laki). Yang ada di rumah cuman ndoro putri (juragan wanita),” jawabnya dengan ramah. “Oh.. jadi Bagus ikut pergi juga ya Bi. Ya sudah kalau begitu, lain waktu saja saya ke sini lagi,” jawabku sambil mau pergi. “Lho, nggak mampir dulu mas Dito. Mbok ya minum-minum dulu, biar capeknya hilang.” “Makasih Bi, sudah sore ini,” jawabku. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Baru aku mau beranjak pulang, pintu depan tiba-tiba terbuka. Ternyata Tante Hani, mama Bagus yang membuka pintu. “Bibi ini gimana sih, ada tamu kok nggak disuruh masuk?”, katanya sambil sedikit mendelik pada si pembantu. “Udah ndoro, sudah saya suruh duduk dulu, tapi mas Dito nggak mau,” jawabnya. “Eh, nak Dito. Kenapa di luaran aja. Ayo masuk dulu,” kata Tante Hani lagi. “Makasih tante. Lain waktu aja saya main lagi tante,” jawabku. “Ah, kamu ini kayak sama orang lain saja. Ayo masuk sebentar lah, udah datang jauh-jauh kok ya balik lagi. Ayo masuk, biar dibikin minum sama bibi dulu,” kata Tante Hani lagi sambil melambai ke arahku. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Aku tidak bisa lagi menolak, takut membuat Tante Hani tersinggung. Kemudian aku melangkah masuk dan duduk di teras, sementara Tante Hani masih berdiri di depan pintu. “Nak Dito, duduk di dalem saja. Tante lagi kurang enak badan, tante nanti nggak bisa nemenin kamu kalau duduk di luar.” “Ya tante,” jawabku sambil masuk ke rumah dengan perasaan setengah sungkan. “Bagus ikut Om pergi kemana sih tante?” tanyaku basa-basi setelah duduk di sofa di ruang tamu. “Pada ke *kota X*, ke rumah kakek. Mendadak sih tadi pagi. Soalnya om-mu itu kan jarang sekali libur. Sekali boleh cuti, langsung mau nengok kakek.” “Ehm.. tante nggak ikut?” “Besuk pagi rencananya tante nyusul. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Soalnya hari ini tadi tante nggak bisa ninggalin kantor, masih ada yang mesti diselesaiin,” jawab Tante Hani. “Emangnya Bagus nggak ngasih tahu kamu kalau dia pergi?” “Nggak tante,” jawabku sambil sedikit terheran-heran. Tidak biasanya Tante Hani menyebutku dengan “kamu”. Biasanya dia menyebutku dengan “nak Dito”. “Kok bengong!” Tanya Tante Hani membuatku kaget. “Eh.. anu.. eh..,” aku tergugup-gugup. “Ona-anu, ona-anu. Emang anunya siapa?” Tante Hani meledek kegugupanku yang membuatku makin jengah. Untung Bibi segera datang membawa secangkir teh hangat, sehingga rasa jengahku tidak berkepanjangan. “Mas Dito, silakan tehnya dicicipin, keburu dingin nggak enak,” kata bibi sambil menghidangkan teh di depanku. “Makasih Bi,” jawabku pelan. “Itu tehnya diminum ya, tante mau mandi dulu.. bau,” kata Tante Hani sambil tersenyum. Setelah itu Tante Hani dan pembantunya masuk ke ruang tengah. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Sementara aku mulai membaca-baca koran yang ada di meja untuk. Hampir setengah jam aku sendirian membaca koran di ruang tamu, sampai akhirnya Tante Hani nampak keluar dari ruang tengah. Dia memakai T-shirt warna putih dipadu dengan celana ketat di bawah lutut. Harus kuakui, meskipun umurnya sudah 40-an namun badannya masih istimewa. Kulitnya putih bersih, dan wajahnya meskipun sudah mulai ada kerut di sana-sini, tapi masih jelas menampakkan sisa-sisa kecantikannya. “Eh, ngapain kamu ngliatin tante kayak gitu. Heran ya liat nenek-nenek.” “Mati aku!” kataku dalam hati. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Ternyata Tante Hani tahu sedang aku perhatikan. Aku hanya bisa menunduk malu, mungkin wajahku saat itu sudah seperti udang rebus. “Heh, malah bengong lagi,” katanya lagi. Kali ini aku sempat melihat Tante Hani tersenyum yang membuatku sedikit lega tahu kalau dia tidak marah. “Maaf tante, nggak sengaja,” jawabku sekenanya. “Mana ada nggak sengaja. Kalau sebentar itu nggak sengaja, lha ini lama gitu ngeliatnya,” kata Tante Hani lagi. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Meskipun masih merasa malu, namun aku agak tenang karena kata-kata Tante Hani sama sekali tidak menunjukkan sedang marah. “Kata Bagus, kamu mau pertandingan sepakbola di sekolah ya?” Tanya Tante Hani. “Eh, iya tante. Pertandingan antar SMU se-kota. Tapi masih dua minggu lagi kok tante, sekarang-sekarang ini baru tahap penggojlokan,” Aku sudah mulai tenang kembali. “Pelajaran kamu terganggu nggak?” “Ya sebenarnya lumayan menggangu tante, habisnya latihannya belakangan ini berat banget, soalnya sekolah sengaja mendatangkan pelatih sepakbola beneran. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Tapi, sekolah juga ngasih dispensasi kok tante. Jadi kalau capeknya nggak ketulungan, kami Dikasih kesempatan untuk nggak ikut pelajaran. Kalau nggak begitu, nggak tahu lah tante. Soalnya kalau badan udah pegel-pegel, ikut pelajaranpun nggak konsen.” “Kalau pegel-pegel kan tinggal dipijit saja,” kata Tante Hani. “Masalahnya siapa yang mau mijit tante?” “Tante mau kok,” jawab Tante Hani tiba-tiba. “Ah, tante ini becanda aja,” kataku. “Eh, ini beneran. Tante mau mijitin kalau memang kamu pegel-pegel. Kalau nggak percaya, sini tante pijit,” katanya lagi. “Enggak ah tante. Ya, saya nggak berani tante. Nggak sopan,” jawabku sambil menunduk setelah melihat Tante Hani nampak sungguh-sungguh dengan kata-katanya. “Lho, kan tante sendiri yang nawarin, jadi nggak ada lagi kata nggak sopan. Ayo sini tante pijit,” katanya sambil memberi isyarat agar aku duduk di sofa di sebelahnya. Penyakit gugupku kambuh lagi. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Aku hanya diam menunduk sambil mempermainkan jari-jariku. “Ya udah, kalau kamu sungkan biar tante ke situ,” katanya sambil berjalan ke arahku. Sebentar kemudian sambil berdiri di samping sofa, Tante Hani memijat kedua belah pundakku. Aku hanya terdiam, tidak tahu persis seperti apa perasaanku saat itu. Setelah beberapa menit, Tante Hani menghentikan pijitannya. Kemudian dia masuk ke ruang tengah sambil memberi isyarat padaku agar menunggu. Aku tidak tahu persis apa yang dilakukan Tante Hani setelah itu. Yang aku tahu, aku sempat melihat bibi pembantu keluar rumah melalui pintu samping, yang tidak lama kemudian disusul Tante Hani yang keluar lagi dari ruang tengah. “Bibi tante suruh beli kue. Kue di rumah sudah habis,” katanya seolah menjawab pertanyaan yang tidak sempat kuucapkan. “Ayo sini tante lanjutin mijitnya. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Pindah ke sini aja biar lebih enak,” kali itu aku hanya menurut saja pindah ke sofa panjang seperti yang disuruh Tante Hani. Kemudian aku disuruh duduk menyamping dan Tante Hani duduk di belakangku sambil mulai memijit lagi. “Gimana, enak nggak dipijit tante?” Tanya Tante Hani sambil tangannya terus memijitku. Aku hanya mengangguk pelan. “Biar lebih enak, kaosnya dibuka aja,” kata Tante Hani kemudian. Aku diam saja. Bagaimana mungkin aku berani membuka kaosku, apalagi perasaanku saat itu sudah tidak karuan. “Ya sudah. Kalau gitu, biar tante bantu bukain,” katanya sambil menaikkan bagian bawah kaosku. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Seperti kena sihir aku menurut saja dan mengangkat kedua tanganku saat Tante Hani membuka kaosku. Setelah itu Tante Hani kembali memijitku. Sekarang tidak lagi hanya pundakku, tapi mulai memijit punggung dan kadang pinggangku. Perasaanku kembali tidak karuan, bukan hanya pijitannya kini, tapi sepasang benda empuk sering menyentuh bahkan kadang menekan punggungku. Meski seumur-umur aku belum pernah menyentuh payudara, tapi aku bisa tahu bahwa benda empuk yang menekan punggungku itu adalah sepasang payudara Tante Hani. Beberapa lama aku berada dalam situasi antara merasa nyaman, malu dan gugup sekaligus, sampai akhirnya aku merasakan ada benda halus menelusup bagian depan celanaku. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Aku terbelalak begitu mengetahui yang menelusup itu adalah tangan Tante Hani. “Tante.. ” kataku lirih tanpa aku sendiri tahu maksud kataku itu. Tante Hani seperti tidak mempedulikanku, dia malah sudah bergeser ke sampingku dan mulai membuka kancing serta retsluiting celanaku. Sementara itu aku hanya terdiam tanpa tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya aku mulai bisa melihat dan merasakan Tante Hani mengelus penisku dari luar CD-ku. Aku merasakan sensasi yang luar biasa. Sesuatu yang baru pertama kali itu aku rasakan. Belum lagi aku sadar sepenuhnya apa yang terjadi, aku mendapati penisku sudah menyembul keluar dan Tante Hani sudah menggenggamnya sambil sesekali membelai-belainya. Setelah itu aku lebih sering memejamkan mata sambil sekali-kali melirik ke arah penisku yang sudah jadi mainan Tante Hani. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Tak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan yang jauh lebih mencengangkan. Kepala penisku seperti masuk ke satu lubang yang hangat. Ketika aku melirik lagi, kudapati kepala penisku sudah masuk ke mulut Tante Hani, sementara tangannya naik turun mengocok batang penisku. Aku hanya bisa terpejam sambil mendesis-desis keenakan. Beberapa menit kemudian aku merasakan seluruh tubuhku mulai mengejang. Aku merasakan Tante Hani melepaskan penisku dari mulutnya, tapi mempercepat kocokan pada batang penisku. “Sssshhhh.. creettt… creett… ” Sambil mendesis menikmati sensasi rasa yang luar biasa aku merasakan cairan hangat menyemprot sampai ke dadaku, cairan air mHani ku sendiri. “Ah, dasar anak muda, baru segitu aja udah keluar,” Tante Hani berbisik di dekat telingaku. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Aku hanya menatap kosong ke wajah Tante Hani, yang aku tahu tangannya tidak berhenti mengelus-elus penisku. “Tapi ini juga kelebihan anak muda. Udah keluarpun, masih kenceng begini,” bisik Tante Hani lagi. Setelah itu aku lihat Tante Hani melepas T-Shirtnya, kemudian berturut-turut, BH, celana dan CD-nya. Aku terus terbelalak melihat pemandangan seperti itu.beritaseks.com Dan Tante Hani seperti tidak peduli kemudian meluruskan posisi ku, kemudian dia mengangkang duduk di atasku. Selanjutnya aku merasakan penisku digenggam lagi, kali ini di arahkan ke selangkangan Tante Hani. “Sleppp…. Aaaaahhhhh… ” suara penisku menembus vagina Tante Hani diiringi desahan panjangnya. Kemudian Tante Hani bergerak turun naik dengan cepat sambil mendesah-desah. Mulutnya terkadang menciumi dada, leher dan bibirku. Ada beberapa menit Tante Hani bergerak naik turun, sampai akhirnya dia mempercepat gerakannya dan mulai menjerit-jerit kecil dengan liarnya. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Akupun kembali merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tak lama kemudian… “Aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh…….. ,” Tante Hani melenguh panjang, bersamaan dengan teriakanku yang kembali merasakan puncak yang kedua kali. Setelah itu Tante Hani terkulai, merebahkan kepalanya di dadaku sambil memeluk pundakku. “Terima kasih Dit…,” bisiknya lirih diteruskan kecupan ke bibirku. Sejak kejadian itu, aku mengalami syok. Rasa takut dan bersalah mulai menghantui aku. Sulit membayangkan seandainya Bagus mengetahui kejadian itu. Perubahan besar mulai terjadi pada diriku, aku mulai sering menyendiri dan melamun. Namun selain rasa takut dan bersalah, ada perasaan lain yang menghinggapi aku. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Aku sering terbayang-bayang Tante Hani dia telanjang bulat di depanku, terutama waktu malam hari, sehingga aku tiap malam susah tidur. Selain seperti ada dorongan keinginan untuk mengulangi lagi apa yang telah Tante Hani lakukan padaku. Perubahan pada diriku ternyata dirasakan juga oleh paman dan bibiku dan juga teman-temanku, termasuk Bagus. Tentu saja aku tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Situasi seperti itu berlangsung sampai seminggu lebih yang membuat kesehatanku mulai drop akibat tiap malam susah tidur, dan paginya tetap kupaksakan masuk sekolah. Akibat dari itu pula, akhirnya aku memilih mundur dari tim sepakbola sekolahku, karena kondisiku tidak memungkinkan lagi untuk mengikuti latihan-latihan berat. Kira-kira seminggu setelah kejadian itu, aku berjalan sendirian di trotoar sepulang sekolah. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Aku menuju halte yang jaraknya sekitar 300 meter dari sekolahku. Sebenarnya persis di depan sekolahku juga ada halte untuk bus kota, namun aku memilih halte yang lebih sepi agar tidak perlu menunggu bus bareng teman-teman sekolahku. Saat asyik berjalan sambil menunduk, aku Dikejutkan mobil yang tiba-tiba merapat dan berhenti agak di depanku. Lebih terkejut lagi saat tahu itu mobil itu mobil papanya Bagus. Setelah memperhatikan isi dalam mobil, jantungku berdesir. Tante Hani yang mengendari mobil itu, dan sendirian. “Dit, cepetan masuk, ntar keburu ketahuan yang lain,” panggil Tante Hani sambil membuka pintu depan sebelah kiri. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Sementara aku hanya berdiri tanpa bereaksi apa-apa. “Cepetan sini!” kali ini suara Tante Hani lebih keras dan wajahnya menyiratkan kecemasan. “I.. Iya.. tante,” akhirnya aku menuruti panggilan Tante Hani, dan bergegas masuk mobil. “Nah, gitu. Keburu ketahuan temen-temenmu, repot.” kata Tante Hani sambil langsung menjalankan mobilnya. Di dalam mobil aku hanya diam saja, meskipun aku bisa sedikit melihat Tante Hani beberapa kali menengok padaku. “Tumben kamu nggak bareng Bagus,” Tanya Tante Hani tiba-tiba. “Enn.. Enggak tante. Saya lagi pengin sendirian saja. Tante nggak sekalian jemput Bagus?” aku sudah mulai menguasai diriku. “Kan, emang Bagus nggak pernah dijemput,” jawab Tante Hani. “Eh, iya ya,” jawabku seperti orang bloon. Setelah itu kami lebih banyak diam. Tante Hani mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Setelah sampai di sebuah komplek pertokoan Tante Hani melambatkan mobilnya sambil melihat-lihat mungkin mencari tempat parkir yang kosong. Setelah memarkirkan mobilnya, yang sepertinya mencari tempat yang agak jauh dari pusat pertokoan, Tante Hani mengajak aku turun. Setelah turun, Tante Hani langsung menyetop taksi yang kebetulan sedang melintas. Terlihat dia bercakap-cakap dengan sopir taksi sebentar, kemudian langsung memanggilku supaya ikut naik taksi. Setelah masuk taksi, Tante Hani memberi isyarat padaku yang terbengong-bengong supaya diam, kemudian dia menyandarkan kepalanya pada jok taksi dan memejamkan matanya, entah kecapaian atau apa. Kira-kira 20 menit kemudian taksi memasuki pelataran sebuah hotel di pinggiran kota. “Dit, kamu masuk duluan, kamu langsung aja. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Ada kamar nganggur yang habis dipakai tamu kantor tante. Nanti tante nyusul,” kata Tante Hani memberikan kunci kamar hotel sambil setengah mendorongku agar keluar. Kemudian aku masuk ke hotel, aku memilih langsung mencari petunjuk yang ada di hotel itu daripada tanya ke resepsionis. Dan memang tidak sulit untuk mencari kamar dengan nomor seperti yang tertera di kunci. Singkat cerita aku sudah masuk ke kamar, namun hanya duduk-duduk saja di situ. Kira-kira 15 menit kemudian terdengar ketukan di pintu kamar, ternyata Tante Hani. Dia langsung masuk dan duduk di pinggir ranjang. “Bagus bilang kamu keluar dari tim sepakbola ya?!” tanyanya tanpa ba-bi-bu dengan nada agak tinggi. “I.. iya tante,” jawabku pelan. “Kamu juga nggak pernah lagi kumpul sama temen-temen kamu, nggak pernah main lagi sama Bagus,” Tante Hani menyemprotku yang hanya bisa diam tertunduk. “Kamu tahu, itu bahaya. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Orang-orang dan keluargaku bisa tahu apa yang sudah terjadi.. ,” kata-kata Tante Hani terputus dan terdengar mulai sedikit sesenggukan. “Tapi.. saya nggak pernah ngasih tahu siapa-siapa,” kataku. “Memang kamu belum ngasih tahu, tapi kalau ditanyain terus-terusan bisa-bisa kamu cerita juga,” katanya lagi sambil sesenggukan. “Apa yang terjadi dengan keluarga tante jika semuanya tahu!” “Tante memang salah, tante yang membuat kamu jadi begitu,” kata Tante Hani, kali ini agak lirih sambil menahan tangisnya. “Tapi kalau kamu merasakan seperti yang tante rasakan..” terputus lagi. “Merasakan apa tante?” Akhirnya Tante Hani cerita panjang lebar tentang rumah tangganya. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Tentang suaminya yang sibuk mengejar karir, sehingga hampir tiap hari pulang malam, dan jarang libur. Tentang kehidupan seksualnya sebagai akibat dari kesibukan suaminya, serta beratnya menahan hasrat biologisnya akibat dari semua itu. “Kalau kamu mau marah, marahlah. Entah kenapa, tante nggak sanggup lagi menahan dorongan birahi waktu kamu ke rumah minggu kemarin.beritaseks.com Terserah kamu mau menganggap tante kayak apa, yang penting kamu sudah tahu masalah tante. Sekarang kalau mau pulang, pulanglah, tante yang ngongkosin taksinya,” kata Tante Hani lirih sambil membuka tasnya, mungkin mau mengeluarkan dompet. “Nggak.. nggak usah tante.. ” aku mencegah. “Saya belum mau pulang, saya nggak mau membiarkan tante dalam kesedihan.” Entah pengaruh apa yang bisa membuatku seketika bisa bersikap gagah seperti itu. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Aku hampiri Tante Hani, aku elus-elus kepalanya. Hilang sudah perasaan sungkanku padanya. Tante Hani kemudian memeluk pinggangku dan membenamkan kepalanya dalam pelukanku. Setelah beberapa lama, aku duduk di samping Tante Hani. Kuusap-usap dan sibakkan rambutnya. Kusap pipinya dari airmata yang masih mengalir. Pelahan kucium keningnya. Kemudian, entah siapa yang mulai tiba-tiba bibir kami sudah saling bertemu. Ternyata, kalau tidak sedang merasa sungkan atau takut, aku cukup lancar juga mengikuti naluri kelelakianku. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Cukup lama kami berciuman bibir, dan makin lama makin liar. Aku mulai mengusap punggung Tante Hani yang masih memakai baju lengkap, dan kadang turun untuk meremas pantatnya. Tante Hani pun melakukan hal yang sama padaku. Tante Hani sepertinya kurang puas bercumbu dengan pakaian lengkap. Tangannya mulai membuka kancing baju seragam SMU-ku, kemudian dilepasnya berikut kaos dalam ku. Kemudian dia melepaskan pelukanku dan berdiri. Pelan-pelan dia membuka pakain luarnya, sampai hanya memakai CD dan BH. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Meskipun aku sudah melihat Tante Hani telanjang, tapi pemandangan yang sekarang ada di depanku jauh membuat nafsuku bergejolak, meskipun masih tertutup CD dan BH. Aku langsung berdiri, kupeluk dan kudorong ke arah dinding, sampai kepala Tante Hani membentur dinding, meski tidak begitu keras. “Ah, pelan-pelan doonnng,” kata Tante Hani manja diiringi desahannya desahannya. Aku semakin liar saja. Kupagut lagi bibir Tante Hani, sambil tanganku meremas-remas buah dadanya yang masih memakai BH. Tante Hani tidak mau kalah, bahkan tangannya sudah mulai melepaskan melorotkan celana luar dan dalamku. Kemudian, diteruskannya dengan menginjaknya agar bisa melorot sempurna. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Aku bantu upaya Tante Hani itu dengan mengangkat kakiku bergantian, sehingga akhirnya aku sudah telanjang bulat. Setelah itu Tante Hani membantuku membuka pengait BH-nya yang ada di belakang. Rupanya dia tahu aku kesulitan untuk membuka BH-nya. Sekarang aku leluasa meremas-remas kedua buah dada Tante Hani yang cukup besar itu, sedang Tante Hani mulai mengelus dan kadang mengocok penisku yang sudah sangat tegang. Kemudian tante setengah menjambak Tante Hani mendorong kepalaku di arahkan ke buah dadanya yang sebelah kiri. Kini puting susu itu sudah ada di dalam mulutku, kuisap-isap dan jilati mengikuti naluriku. “Aaaaahh….. oooouhghhh… ” desahan Tante Hani makin keras sambil tangannya tak berhenti mempermainkan penisku. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Beberapa kali aku isap puting susu Tante Hani bergantian, mengikuti sebelah mana yang dia maui. Setelah puas buah dadanya aku mainkan, Tante Hani mendorong tubuhku pelan ke belakang. Kemudian dia berputar, berjalan mundur sambil menarikku ke arah ranjang. Sampai di pinggir ranjang, Tante Hani sengaja menjatuhkan dirinya sehingga sekarang dia telentang dengan aku menindih di atasnya, sementara kakinya dan kakiku masih menginjak lantai. Setelah itu, dia berusaha melorotkan CD-nya, yang kemudian aku bantu sehinggap Tante Hani kini untuk kedua kalinya telanjang bulat di depanku. Usai melepas CD-nya aku masih berdiri memelototi pemandangan di depanku. Tante Hani yang telentang dengan nafas memburu dan mata agak saya menatapku. Gundukan di selangkangannya yang ditumbuhi bulu tidak begitu lebat nampak benar menantang, seperti menyembul didukung oleh kakinya yang masih menjuntai ke lantai. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Bibir vaginanya nampak mengkilap terkena cairan dari dalamnya. (Waktu itu aku belum bisa menilai dan membanding-bandingkan buah dada, mana yang kencang, istimewa dan sebagainya. Paling hanya besar-kecilnya saja yang bisa aku perhatikan). “Sini sayaangg.. ,” panggil Tante Hani yang melihat aku berdiri memandangi tiap jengkal tubuhnya. Aku menghampirinya, menindih dan mencoba memasukkan penisku ke lubang vaginanya. Tapi, Tante Hani menahanku. Nampak dia menggeleng sambil memandangku. Kemudian tiba-tiba kepalaku didorong kebawah. Terus didorong cukup kuat sampai mulutku persis berada di depan lubang vaginanya. Setelah itu Tante Hani berusaha agar mulutku menempel ke vaginanya. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Awalnya aku ikuti, tapi setelah mencium bau yang aneh dan sangat asing bagiku, aku agak melawan. Mengetahui aku tidak mau mengikuti kemauannya, dia bangun. Ditariknya kedua tanganku agar aku naik ke ranjang, ditelentangkannya tubuhku. Sempat aku melihat bibirnya tersenyum, sebelum di mengangkang tepat di atas mulutku. “Bleepp… ” aku agak gelagapan saat vagina Tante Hani ditempel dan ditekankan di mulutku. Tante Hani memberi isyarat agar aku tidak melawan, kemudian pelan-pelan vaginanya digesek-gesekkan ke mulutku, sambil mulutnya mendesis-desis tidak karuan. Aku yang awalnya rada-rada jijik dengan cairan dari vagina Tante Hani, sudah mulai familiar dan bisa menikmatinya. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Bahkan, secara naluriah, kemudian ku keluarkan lidahku sehingga masuk ke lubang vagina Tante Hani. “Oooohhh… sssshhh… pinter kamu sayang… oh… ” gerakan Tante Hani makin cepat sambil meracau. Tiba-tiba, dia memutar badannya. Kagetku hanya sejenak, berganti kenikmatan yang luar biasa setelah penisku masuk ke mulut Tante Hani. Aku merasakan kepala penisku Dikulum dan dijilatinya, sambil tangannya mengocok batang penisku. Sementara itu, vaginanya masih menempel dimulutku, meskipun gesekannya sudah mulai berkurang. Sambil menikmati aku mengelus kedua pantat Tante Hani yang persis berada di depan mataku. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Setelah puas dengan permainan seperti itu, Tante Hani mulai berputar dan bergeser. Masih mengangkang, tapi tidak lagi di atas mulutku, kali ini tepat di atas ujung penisku yang tegak. “Sleep.. blesss… ooooooooooooohhhhhh,” penisku menancap sempurna di dalam vagina Tante Hani diikuti desahan panjangnya, yang malah lebih mirip dengan lolongan. Tante Hani bergerak naik turun sambil mulutnya meracau tidak karuan. Tidak seperti yang pertama waktu di rumah Tante Hani, kali ini aku tidak pasif. Aku meremas kedua buah dada Tante Hani yang semakin menambah tidak karuan racauannya. Rupanya, aksi Tante Hani itu tidak lama, karena kulihat tubuhnya mulai mengejang. Setengah menyentak dia luruskan kakinya dan menjatuhkan badannya ke badanku. “Ooooooooohhh…. Aaaaaaaaahhh….. ” Tante Hani ambruk, terkulai lemas setelah mencapai puncak. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Beberapa saat dia menikmati kepuasannya sambil terkulai di atasku, sampai kemudian dia berguling ke samping tanpa melepas vaginanya dari penisku, dan menarik tubuhku agar gantian menindihnya. Sekaraang gantian aku mendorong keluar-masuk penisku dari posisi atas. Tante Hani terus membelai rambut dan wajahku, tanpa berhenti tersenyum. Beberapa waktu kemudian aku mempercepat sodokanku, karena terasa ada bendungan yang mau pecah. “Tanteeeeee……. Oooooohhh……. ” gantian aku yang melenguk panjang sambil membenamkan penisku dalam-dalam. Tante Hani menarik tubuhku menempel ketat ke dadanya, saat aku mencapai puncak. Setelah sama-sama mencapai puncak kenikmatan, aku dan Tante Hani terus ngobrol sambil tetap berpelukan yang diselingi dengan ciuman. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Waktu ngobrol itu pula Tante Hani banyak memberi tahu tentang seks, terutama bagian-bagian sensitif wanita serta bagaimana meng-eksplor bagian-bagian sensitif itu. Setelah jam 4 sore, Tante Hani mengajak pulang. Aku sebenarnya belum mau pulang, aku mau bersetubuh sekali lagi. Tapi Tante Hani berkeras menolak. “Tante janji, kamu masih terus bisa menikmati tubuh tante ini. Tapi ingat, kamu harus kembali bersikap seperti biasa, terutama pada Bagus. Dan kamu harus kembali ke tim sepakbola. Janji?” “He-em,” aku menganggukkan kepala. “Ingat, kalau kamu tepat janji, tante juga tepat janji. Tapi kalau kamu ingkar janji, lupakan semuanya. Oke?” Aku sekali mengangguk. Sebelum aku dan Tante Hani memakai pakaian masing-masing, aku sempatkan mencium bibir Tante Hani dan tak lupa bibir bawahnya. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Setelah selesai berpakaian, Tante Hani memberiku ongkos taksi dan menyuruhku pulang duluan. Sejak itu perasaanku mulai ringan kembali, dan aku sudah normal kembali. Aku juga bergabung kembali ke tim sepakbola sekolahku, yang untungnya masih diterima. Dari sepakbola itulah yang kemudian memuluskan langkahku mencari kerja kelak. Dan Tante Hani menepati janjinya. Dia benar-benar telah menjadi pasangan kencanku, dan guru sex-ku sekaligus. Paling sedikit seminggu sekali kami melakukannya berpindah-pindah tempat, dari hotel satu ke hotel yang lain, bahkan kadang-kadang keluar kota. 

Novel Dewasa (++) Part 3 Tentu saja kami melakukannya memakai strategi yang matang dan hati-hati, agar tidak Ditetahui orang lain, terutama keluarga Tante Hani. Sejak itu pula aku mengalami perubahan yang cukup drastis, terutama dalam pergaulanku dengan teman-teman cewek. Aku yang awalnya Dikenal pemalu dan jarang bergaul dengan teman cewek, mulai Dikenal sebagai play boy. Sampai lulus SMU, beberapa cewek baik dari sekolahku maupun dari sekolah lain sempat aku pacari, dan beberapa di antaranya berhasil kuajak ke tempat tidur. (Lain waktu, kalau sempat saya ceritakan petualangan saya tersebut). 

Novel Dewasa (++) Part 3 Begitulah kisah awalku dengan Tante Hani, yang akhirnya merubah secara drastis perjalanan hidupku ke depannya. Sampai saat ini, aku masih berhubungan dengan Tante Hani, meskipun paling-paling sebulan atau dua bulan sekali. Meskipun dari segi daya tarik seksual Tante Hani sudah jauh menurun, namun aku tidak mau melupakannya begitu saja. Apalagi, Tante Hani tidak pernah berhubungan dengan pria lain, karena dianggapnya resikonya terlalu besar. Begitulah, Tante Hani yang terjepit antara hasrat seksual menggebu yang tak terpenuhi dengan status sosial yang harus selalu dijaga.

Novel Dewasa (++) Part 2


 Antara Kuli Tua Vs Mantan Model

Novel Dewasa (++) Part 2 Didikan dan dorongan dari orang tuaku mampu menghantarkanku menjadi orang yang memiliki status sosial dan ekonomi lumayan dibandingkan keadaan keluargaku sebelumnya ketika aku masih kecil. Maklum kami berasal dari keluarga yang cukup bersahaja. Aku selalu disuruh belajar dan belajar. Kata mereka, bila ingin memperbaiki tingkat kehidupan maka kita harus giat belajar sehingga kelak setelah memiliki ilmu yang tinggi dan lulus dari perguruan tinggi, rejeki akan lebih mudah didapat. Orang tuaku ada benarnya meskipun sekarang banyak sekali sarjana menganggur, kalah sama yang berani mengambil kesempatan apa saja biarpun tidak tinggi sekolahnya. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Namun sesungguhnya ada kekurangannya juga. Setelah menyandang gelar S1 di salah bidang keteknikan aku beruntung dengan amat mudahnya mendapatkan pekerjaan yang bergengsi. Namun seperti yang telah kusebutkan tadi, aku begitu terobsesi dengan isi otak belaka, namun tidak dalam hal kepandaian bergaul. Lebih parah lagi dalam hal bergaul dengan cewek. Asli seperti layaknya murid TK bila dibandingkan dengan para pria dewasa lainnya. Di samping memiliki masalah dalam psikologi, kelemahan lain yang juga kritis yang kuidap adalah masalah fisiologi. Aku lemah. Aku terlalu acuh dan menganggap remeh masalah olah tubuh. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Dampaknya adalah aku tidak memiliki kekuatan fisik yang prima yang seharusnya dimiliki oleh seorang pria. Tubuhku memang tidak kerempeng, namun kurang berotot dan bertenaga, dan celakanya lagi untuk urusan seks aku tidak terlalu ‘jantan’. Bila melihat wanita cantik aku hanya sekadar ngiler saja tanpa berani bertindak lebih jauh, takut mengecewakan. Akhirnya aku hanya mampu dari ke hari membayangkan mereka saja. Selebihnya onani, itupun paling seminggu sekali, bila kantong sperma sudah kurasa penuh. Tapi biarlah, tidak semua yang kita inginkan di dunia bisa kita dapatkan, Tuhan telah sangat adil membagi karunia-Nya. Ada yang diberi kelebihan rejeki, ada yang diberi kelebihan penampilan fisik, dan ada yang diberi kelebihan kekuatan fisik. Sesungguhnya semua itu tergantung juga dari cita-cita, tempaan hidup, ataupun keadaan yang kadang tak dapat dihindari atau dikehendaki sebenarnya. Mungkin semua orang ingin kaya, namun berhubung satu dan lain hal mereka tidak beruntung mendapatkannya. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Akan tetapi sebenarnya bila mereka pasrah dan mampu berpikir positif untuk menggali kelebihan-kelebihan dari kekurangan-kekurangannya (seperti setali dua uang, di satu sisi ada plus pasti di sisi lain ada minusnya), mereka akan menemukan keunggulan tersendiri yang mungkin tidak dimiliki oleh orang yang mereka anggap ‘beruntung’. Begitulah kehidupan, kebanyakan orang hanya mampu mendongak ke atas, selalu berkeluh kesah memprihatini diri sendiri atas kelebihan orang lain. Sementara aku saat ini memiliki pandangan lain, aku suka iri melihat para pria perkasa yang akibat tempaan hidupnya yang berat justru membuat mereka memiliki kekuatan fisik yang prima, sekaligus memiliki pesona seksual yang luar biasa bagi lawan jenis. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Aku merasa bahwa kelebihan materiku paling hanya dapat menyilaukan mata wanita, tapi tidak benar-benar mampu membuat mereka bertekuk lutut. Mereka mudah dekat denganku karena statusku, namun aku merasa mereka tidak benar-benar di ‘dekatku’ setelah merasakan ‘keintiman’ denganku. Sehingga pada suatu ketika aku menemukan metode yang kuanggap dapat memuaskan hasratku, meskipun tidak secara langsung namun ternyata luar biasa kenikmatan yang dapat kuraih, yaitu memuaskan diri dengan meminjam kemampuan orang lain. Inilah sebagian kisah-kisahku dalam mendapatkan kepuasan seksual tetapi tidak secara langsung melakukannya sendiri, alias kepuasan sekunder. Menyutradarai Suatu pagi di hari Sabtu ketika sedang jalan-jalan cari angin untuk menumpas kejenuhan dan kepenatan kerja beberapa bulan ini aku mencoba rute ke arah pelabuhan yang selama ini belum pernah kucoba. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Memasuki tol dalam kota aku menuju arah pelabuhan Tanjung Priok. Rencanaku adalah melihat-lihat suasana pelabuhan. Mengamati kapal berlabuh atau berlayar, kesibukan bongkar muat, atau hal-hal lainnya yang benar-benar baru. Kuparkir mobil di areal parkir lalu aku mendekati anjungan sambil bersedeku di pagar. Hawa semilir pelabuhan masih segar di pagi hari. Kesibukan pelabuhan sudah mulai. Pertama kuamati kapal besar yang berlabuh. Nampaknya kapal barang, karena lebih banyak barang yang turun ketimbang manusia. Tiba-tiba terlintas kilat sesuatu di kepalaku. Aha, kenapa tidak kucoba? Lalu mulai kuteliti satu per satu para kuli pelabuhan.beritaseks.com Ada beberapa yang tua, namun kebanyakan masih muda. Badan mereka rata-rata kekar berotot. Rata-rata berkulit gelap mungkin karena tertempa teriknya matahari pelabuhan selama bertahun-tahun. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Tapi bagaimana caranya? Aku sedang mendebat diriku sendiri. Ah, macam mana mereka bisa menolak penawaranku. Lalu aku mencoba menyeleksi secara diam-diam, siapa diantara mereka yang hendak kupilih sebagai calonnya. Yang tua? Sebenarnya nggak masalah, toh mereka nampaknya juga masih jantan. Yang muda, tentu saja memiliki peluang keberhasilan yang lebih besar untuk rencanaku nanti. Akhirnya kupilihlah yang agak tua, sekitar 50 tahunan, dengan pertimbangan yang tua lebih berpengalaman dan lebih mampu mengendalikan permainan. Di samping itu itung-itung membantunya secara finansial, kasihan tua-tua masih banting tulang menjadi kuli. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Nah sekarang tahapan selanjutnya adalah melobi dan merayu si Bapak agar bersedia menjadi aktor dalam permainan erotis ini. “Pagi?”, sapaku mencoba ramah. “Pagi juga”, bapak ini agak terkejut dan grogi ketika disapa seorang perlente seperti diriku ini (hehe memuji diri sendiri) hingga menimbulkan sejuta pertanyaan baginya, tiba-tiba ada orang asing yang menyapanya. “Boleh ngomong sebentar, 5 menit aja Pak”. “O.. Oh ya boleh, boleh, ada apa Den?”. “Panggil aja Pradana, jangan pakai Dan-Den segala”,gurauku. Mencoba mencairkan ketegangan. “Gini Pak, saya mau minta tolong tapi saya juga khawatirakan Bapak tolak mentah-mentah.” Bapak ini menunggu kalimatku selanjutnya, lalu nggak tahan akhirnya bertanya. “Pertolongan apa, Nak Pradana?”. “Istri Bapak ada di mana? Di kampung atau dibawa keJakarta sini?”. “Ah ya ditinggal di kampung saja Pak, susah kalau dibawa ke sini. Berat hidup di Jakarta Pak.” Oho, ada peluang nih. “Lah berapa lama Bapak tidak ketemu istri?”, pancingku. “Sebulan, kadang lebih. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Emang kenapa ya Nak?”. “Nggak kok, apakah Bapak tidak terlalu lama berpisah dari istri”, kukupas halus naluri dasar seorang manusia, khususnya pria. “Heh heh.. Bapak tahulah maksud Nak Pradana. Habis gimana yah, memang masalah makan jadi nomor satu bagi saya. Jadi harus berjauh-jauhan dari istri agar ada yang bisa dimakan. Daripada kumpul, kami mau makan apa?”. “Okelah gini Pak, singkat kata aja ya, saya mau membantu Bapak untuk menyalurkan kekangenan Bapak kepada istri atau wanita tepatnya.” “Waduh, Bapak nggak punya duit lebih untuk begitu-begitu Nak.” “Oh tidak, tidak, Bapak tidak perlu mengeluarkan biaya. Nanti biarlah saya yang membiayai semua ini bahkan ada tips buat Bapak. Jadi tinggal Bapak bilang saja bersedia nanti sisanya biar saya yang urus. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Gimana, mau nggak Pak?” Hampir aku kejedot rantai kapal yang besar-besar itu ketika si bapak akhirnya meng-aprove proposalku. Laki-laki mah di mana-mana sebenarnya sama saja, sulit menolak penawaran menggiurkan seperti ini. Aku sudah bergairah duluan ketika membayangkan bakal ada adegan panas antara ‘Beauty and the beast’. Permainan kontras yang mampu melecut gairahku. Kuputuskan segera mengontak sang pemeran wanita pagi-pagi supaya tidak keburu dibooking orang. Begitu mendapat konfirmasi atas kesediaannya untuk menyediakan waktunya malam ini, maka bergegas pula kukontak sebuah hotel kelas sedang. Yang penting tempatnya agak terlindung dari keramaian. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Si bapak akan kujemput duluan sore-sore dari tempat kerjanya sesuai janjiku untuk mengurus semuanya. Sementara pemeran wanita akan datang sendiri tanpa perlu dijemput. Aku biasa membeli tabloid-tabloid panas yang banyak tersedia di ibukota. Aku suka memelihara gairahku akan wanita dengan berlangganan membeli filem bokep, tabloid atau majalah panas yang berisi info mengenai esek-esek di ibukota. Dengan seringnya berlangganan membeli tabloid semacam itu, aku jadi banyak mendapatkan informasi mengenai agen-agen yang menyediakan wanita untuk melayani syahwat para lelaki/wanita. Jam 20.00 aku dan si bapak telah berada di dalam kamar hotel setelah makan malam, kami mengobrol berbagai hal sambil menunggu kedatangan wanita cantik pesananku. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Tentu saja tarif sekelas dia lumayan mahal, di atas rata-rata tarif wanita panggilan lainnya. Tapi biarlah, fantasi kadang meminta ongkos besar. Tit.. tit.., HP-ku berbunyi, kuangkat.. “Yes dear, dah nyampe?”. “Udah di bawah Mas, di kamar berapa?”, terdengar suara riang. Professional sekali. Semua dilayani dengan riang asal sesuai tarif. “313, ke kiri dari lift ya.” “OK Mas..” Kulihat si bapak agak grogi juga, kutenangkan bahwa semua ini dilandasi alasan komersial belaka. Jadi tidak perlu takut akan ditolak. Siapa tahu malah si wanita setelah malam ini akan menjadi ketagihan kataku. Kan malah lebih enak nanti-nanti dapet layanan rutin gratisan dari si Mbak, gurauku. Banyak kok wanita yang menginginkan seks sejati, yang benar-benar mampu membuat si wanita terkapar dalam orgasme sejati. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Dan itu tidak ada kaitannya dengan siapa bapak, tetapi apa yang bapak dapat lakukan untuk memuaskan si wanita. Si bapak mulai kendor ketegangannya. Ting.. tong.., Kubuka pintu kamar. Bella “Hai”, salamnya. “Hai juga, sendiri apa dianter?”, kutanya basa basi. “Dianter dedemit apa, hehehe”, cair sekali suasananya. Semoga semuanya berjalan lancar. Ini semua demi kepentinganku, menyalurkan hasrat seksualku yang lagi menuntut. Kuamati dandanannya cukup berkelas, bahkan tidak nampak norak bak pelacur kelas jalanan, maklum eks model. Memang yang kupilih adalah eks model untuk memastikan kualitas kecantikannya. Sebenarnya banyak juga yang cantik-cantik yang bukan model, tetapi daripada seperti memilih kucing dalam karung mendingan cari kepastian aja deh. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Kulit putih mulus, tinggi langsing dengan dada menjulang, hidung mancung dan wajah oval. Klop sebagai the beauty. Dia sempat agak kaget ketika ada orang lain di situ, Bapak itu, yang duduk di kursi pojok ruangan. Bapak itu anteng saja dan tidak menatap sama sekali sang aktris. “Bella, ehm sori ya kita perlu bicara sebentar”, aku mulai menceritakan semuanya sejak masalahku sampai hasratku yang dapat dipenuhi melalui cara ini. “Tenang aja Mas, no problem, it’s all about money, Dear. But it’s better when he could make me satisfied. Who knows.” Aku lega sekali, malah dia mulai menatap bapak itu dengan tatapan tajam dan mengundang. Kudekati si bapak dan memberitahukan bahwa wanitanya oke-oke saja malah penasaran ingin menikmati tubuhnya. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Si Bapak mulai bangkit dan berani menatap Si Wanita. Aku duduk di pojok dan mempersilakan keduanya melakukan adegan sesuai dengan inovasi mereka sendiri. Keduanya duduk di tepian ranjang. Sengaja tadi si Bapak tidak kusuruh mandi dulu, badannya masih berkilau-kilau berkeringat meskipun sudah agak lama terkena AC kamar hotel. Biarlah mereka yang memutuskan untuk mandi atau tidak. Si Bapak masih canggung, Si Wanita yang membimbing. Dipegangnya tangan Si Bapak lalu ditimpakan di pangkuannya sambil diiringi dengan lembut tatapan merayu seorang wanita. Badannya mencondong sehingga tetek sebelahnya yang gede itu telah berkenalan dengan lengan Si Bapak yang kokoh. Nah, Harimau sudah menggeliat mulai terpancing dari tidurnya. Direngkuhnya pundak Bella. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Dibelai-belai, dan tangan satunya mulai mengusap-usap paha.beritaseks.com Bella menggelinjang karena tangan kasar itu sangat efektif meraba ujung-ujung sarafnya. Bella sedang mencoba dunia baru. Dunia bawah tanah yang tidak pernah ditengok sebelumnya. Rasa penasaran membangkitkan gairahnya. Roknya berbelah tinggi, hingga ketika duduk pahanya sudah terpampang telanjang sampai pangkal. Si Bapak yang bibirnya hitam kasar mendekat menuju pipi. Nafas nampak mulai memburu dan bertekanan, otot-otot mukanya mulai bangkit menonjol dan mengeras. Pemandangan erotis yang luar biasa ini ditangkap oleh mata Bella sangat mengkilik-kilik nurani kewanitaannya. Ingin ia melayani dan memuaskannya. Naluri bawaan setiap wanita. Aku ikut mulai menghangat. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Ketika Bella mulai membuka kancing baju batik lusuh Si Bapak satu-persatu dari ujung atas, bibir hitam dan tebal Si Bapak sedang mulai menyapu-nyapu pipi mulus Bella. Pipi Bella merona hangat dialiri darah yang terpacu oleh jantung yang meningkat detaknya. Permainan semakin meningkat dengan mulai naiknya usapan telapak lebar dan kasar Si Bapak menuju pangkal paha. Bella meremang. Tubuhnya menjadi makin merapat, teteknya ingin mendapatkan tekanan-tekanan yang lebih kuat dari tubuh si laki-laki perkasa. Setengah kesadarannya mulai meninggalkan dirinya. Ia ingin semua tubuhnya dirajam tangan-tangan kasar itu. Dibelai-belainya lengan-lengan Si Bapak, menyelami betapa perkasanya lelaki ini. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Darahnya berpacu kencang. Mukanya semakin merona merah memberitakan tentang hasrat. Ciuman-ciuman menjilat berpindah ke arah leher di belakang telinga Bella, lenguhan-lenguhan kecil menjadi tak terbendung. Semuanya dari dalam dirinya ingin keluar bebas. Aku spanning. Tak sedetikpun kulewatkan adegan real bokep di depan mataku. Tangan kiri Bella mulai menjemput pangkal paha Si Bapak dan mulai mengusap-usap kelelakiannya. Kadang diselingi dengan menekan-nekan. Si Bapak mulai melenguh-lenguh. Otot-otot wajahnya semakin tegas dan menebal. Lalu menggulati dengan penuh tubuh Bella, merengkuh kuat. Yes, luar biasa. Kaki kiri Bella sudah menumpang di atas paha kiri Si Bapak. Mereka mulai berpagutan sambil duduk di tepian ranjang, bibir hitam tebal berbau rokok lisong melawan bibir mungil mulus merah merekah milik Bella. Sensasional sekali. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Adegan ciuman dan saling melumat berlangsung, berpagut beradu lidah. Dua kutub dunia sedang berpadu di kamar hotel ini. Karena berasal dari dua kutub ekstrim maka tarikannya luar biasa kuat. Sedotan-sedotan kuat mengiringi permainan pemanasan. Kuasa birahi mulai menancapkan kukunya pada dua makhluk yang sedang bercumbu ini. Bella tidak tahan dan sekarang mulai penuh mengangkangi dengan duduk di atas pangkuan Si Bapak. Punggungnya dijamah dan diusap-usap sampai batas leher belakang dengan tangan-tangan tua namun masih kekar dan berotot itu. Bella merinding sehingga bulu kuduknya meremang. Urat-urat tuanya yang menonjol yang sedang menggarap punggung Bella membangkitkan kesan visual yang luar biasa. Adegan dilanjutkan dengan saling kulum kembali dan kedua lidah berlawanan jenis itu saling menggenjot dan berpagut. Kecipak-kecipak bunyi ludah menyemangati keduanya. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Rasa jijik telah musnah dirontokkan oleh birahi yang menyeruak paksa. Libido mengambil kendali. Si Bapak mengamati Bella yang telah mulai banyak memejamkan mata dalam penghayatan. Bella sudah dalam kekuasaannya. Si Bapak masih memegang kendali. Belum terlarut, pengalaman dan usia membuatnya menang angin. Adu mulut disudahi dengan menurunnya serangan Si Bapak menuju tetek-tetek Bella. Kepala Bella mulai terayun-ayun ke belakang dengan mata yang sayu-sayu mengawang. Rambut ikalnya yang sepanjang bahu terburai dari ikatannya. Kaki-kaki putih langsingnya kokoh mengapit dan sudah nampak tegang. Dari samping aku dapat melihat bagian depan Bella telah ditelanjangi, tetek-teteknya telah dikupas keluar dari Bra-nya sehingga tetek-teteknya malah kelihatan tambah mencuat karena tersangga oleh Bra-nya yang masih menggantung kencang. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Tetek-teteknya luar biasa mulus dan kencang, putingnya mengeras merah tua, dan sekarang sedang disedot-sedot rakus oleh Si Bapak. “Enak Neng?”, pertanyaan yang tidak perlu diajukan. Bella sudah mulai menggelepar pasrah. Semua sarafnya telah bersedia untuk meneruskan penjelajahan. “Eehhm.. Ehh..”, hanya lenguhan-lenguhan Bella yang keluar sebagai tanda penerimaan yang tidak dibuat-buat. Sensitivitas kewanitaannya telah terangsang sempurna. Pantatnya ditekan-tekankan di atas gundukan kelelakian Si Bapak yang telah menjulang karena vaginanya kini telah ikut mulai gatal dan geli karena dipengaruhi hormon sexnya. Pergerakan olah asmara merangkak dengan irama yang mengalir alami. Lalu tiba-tiba tangan kiri Si Bapak menyelinap dari belakang pantat Bella, masuk ke dalam CD-nya dan menjangkau liang kewanitaan Bella. Si Bapak ahli mengaparkan wanita agar semakin tenggelam dalam kuasa nafsunya sendiri. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Semua dirangsangnya maka wanita akan mabuk birahi. Semakin liar Bella menggolek-golekkan kepalanya. “Oohh yess.. Arrgghh.. Fuck me.. Ooh my old man..”, rintihan-rintihan erotis menggema di ruangan. Si Bapak mengangkat Bella dengan entengnya (biasanya mengangkat beras sekwintal, Bella paling 55 Kg). Lalu direbahkannya telentang di ranjang. CD Bella dilolosi. Rok dan bajunya masih dibiarkan belum dilepas. Roknya disingkap. Nampak di depan matanya sebuah keindahan dunia. Selangkangan yang bersih mulus dilengkapi dengan rambut-rambut kemaluan yang dipotong rapi. Di tengah-tengahnya bersemayam lubang kenikmatan berwarna merah dadu. Si Bapak terpana. “Memek kayak Neng ini bagus benget ya, indah sekali dan wangi. Bapak ingin melahapnya Neng. Boleh ya Neng?”. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Tanpa persetujuan Bella lalu dengan rakusnya mulut Si Bapak mulai mencomot vagina Bella. “Bapak akan menjilati memek Neng sampai luber yaah..”, Bella mengangguk dan memohon. Si Bapak menguakkan paha-paha putih Bella lebar-lebar lalu menenggelamkan kepalanya di antara keduanya. Bau wangi vagina yang terawat Bella menyergap hidungnya. “Wangi sekali memek Neng, oohh sedapnya.” “Ooggh yess.. Fuckkerrh.. Ssucck mmee..”, pantatnya terangkat-angkat ketika mulut Si Bapak mengulum bibir vagina Bella. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Lidahnya mulai dimainkan keluar-masuk di liang kenikmatan Bella. Kadang melesak dalam-dalam dalam rangka memburu dan mencari itil, bila ketemu terus disodok-sodokkan sampai membikin gila Bella. Tangan Bella terbang kian kemari, mencengkeram kepala Si Bapak agar menekan lebih kuat, menjambaki rambut sendiri, lalu lurus mencengkeram sprei kuat-kuat. Begitu berulang-ulang dan bergantian. Kaki-kaki langsing putihnya telah enumpang di atas pundak Si Bapak berkelojot-kelojot. “Giillaa.. Ennaakkh.. Baanngeet.. Teruss.. Paakk.. Ayyoohh..”, hentakan-hentakan pantatnya naik turun menandakan nafsunya sedang memuncak luar biasa. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Dan yang lebih luar biasa permainan pemanasan telah berlangsung setengah jam lebih. Aku menelan ludah dan melotot. Kukeluarkan penisku dan kukocok. Lalu si Bapak menghentikan permainan lidahnya. Bajunya dilepas, celananya, CD-nya, dan jreenng, penis hitamnya telah mencuat tegak berkilau-kilau, luar biasa besar dan panjang. Made in nature. Alam yang menciptakannya. Aku iri hati. Lalu si Bapak menaiki ranjang, disorongkannya penis supernya ke mulut Bella, Bella menyongsong nafsu. Tersedak. Lalu mulai menjilatinya. Meludah. Mulai menjilati kembali. Ketika batang sudah mengkilat lalu bless, dimasukkan ke mulutnya. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Monyong mulutnya menampung lingga segede itu. Tegar dan kokoh. Tangan kiri Bapak menjangkau ke belakang, mencari vagina Bella. Lalu dicolokkannya. Dengan jari tengahnya lalu vagina Bella yang telah agak kuyup dikocok-kocok. Bella menjerit-jerit. “Buussyeett.. Arrghh.. Aadduhh.. Aaghh.. Aahh “, Bella mulai menggila kembali. Kedua lubang Bella disenggamai bersamaan. Mulut dan vagina-nya. “Ayyoo neengg.. Teruss.. Aahh.. Ahh..”, Si Bapak rupanya sudah mulai fly juga. Dimajumundurkan penisnya sehingga mulut Bella termonyong-monyong. “Seddott.. Seddott.. Neng..”. Fantasi dikulum bidadari menerbangkan jiwanya menuju kesempurnaan kenikmatan yang dirasakan oleh saraf-saraf alat senggamanya. Kekuasaan virtual bahwa telah mampu menindih dan akan menyetubuhi seorang bidadari dari negeri awang-awang telah menghantar birahinya melampaui batas kesadaran. Ekstase. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Osilasi pantatnya semakin akseleratif, kepala Bella terpental-pental maju mundur. Dan crroott.. Crroott luar biasa pejuh yang diproduksinya. “Oohh neenngg.. Tellan.. Teellaan.. Yaagghh”, sambil terhentak-hentak kelojotan Si Bapak mengangkat kepala Bella dan menekan penisnya agar tidak lepas dari mulut Bella. Bella gelagapan tetapi menikmati menyeruput pejuh yang banjir di mulutnya. Menjilat-jilat lalu menelannya. Aku belum keluar, pegel sedari tegang terus belum ada hasil. Aku masih menginginkan adegan senggama kelamin Vs. Kelamin. Lalu robohlah sosok tua Si Bapak menggelosor di samping Bella setelah nyaris 1 jam permainan berlangsung. Menelentang menatap langit-langit kamar, nafas ngos-ngosan dengan dada kembang kempis. Bella belum klimaks. Bella melap mulutnya lalu menuju toilet. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan bertelanjang. Menghampiri Si Bapak, mengangkanginya, lalu mulai mengocok batang penis Si Bapak. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Memanasi Si Bapak, dia ingin ikut dituntaskan. Penyelesaian atas dirinya adalah keharusan. Si Bapak semakin terpana, tubuh yang begitu indah menginginkan dirinya. Putih bak salju, lembut dan mulus. Badan ramping, tinggi, tetek besar, perut rata, pinggang kecil, pantat padat montok, usia masih belia. Tiada cacat atas dirinya. Alangkah merasa beruntungnya Si Bapak. Sudah menikmati tubuh bidadari seindah ini masih dibayar pula. Seumur-umur tidak pernah terbayangkan sama sekali bakal dianugerahi keajaiban seperti ini. Penis Si Bapak diusap-usapkan ke bibir vaginanya. Dia ingin disetubuhi dengan sempurna, vaginanya ingin dimasuki. Mereka berdua telanjang kini. Si Bapak di bawah, Bella mengangkang dan sedang mengocok. Tangan Si Bapak merengkuh tetek-teteknya, meremas-remas, memilin-milin putingnya, lalu mengenyot-ngenyotnya. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Bella masih panas, tetapi dia masih belum diklimakskan. Vaginanya meneteskan cairan-cairan, nampak lebih kuyup dari sebelumnya. Dibangkit-bangkitkan kembali gairah lelaki tua di bawahnya. Dan tanpa menunggu lama penis Si Bapak mulai dialiri darah kembali sehingga mulai meregang. Bella senang. Semakin ditekuninya kocok-kocokannya. Dijilatinya tetek-tetek Si Bapak. Tangannya kadang mengelus pangkal penis, area penuh saraf, Si Bapak mulai mendengus. Direngkuhnya agar Bella mendekat, dikulum puting-puting teteknya, lalu mereka berpagutan kembali. Tangan-tangan berotot Si Bapak bergeser meremas-remas pantat montok Bella. Diusap-usapnya bibir vagina Bella, lalu diselipkan jari tengah kedua tangannya melesak ke lubang vagina Bella. Bella menjerit. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Ketegangan penis Si Bapak telah sempurna kembali, Bella menuntunnya menuju lubang miliknya. Diusap-usapkan terlebih dahulu memutari sekeliling bibir vaginanya. Bella terpekik-pekik dan meregang-regang. Lalu dijebloskannya penis itu pelan dan pasti. “Ehhg.. Egghh..”, pantatnya naik turun, maju mundur, mengebor seluruh titik-titik kenikmatannya. Matanya terpejam dengan bibir yang menganga dan mendesah-desah histeris. Pantatnya diputar-putar, mencari persinggungan penis dengan saraf di dalam lubangnya yang paling sensitif. Bila ketemu lalu dia terpekik dan dipercepat kocokannya.beritaseks.com Si Bapak terbawa gairah kembali sehingga pantatnya pun ikut diputar dan digoyang-goyangkan. Membikin Bella semakin gila. Berhubung Si Bapak telah sempat orgasme maka permainan ini akan memakan waktu lama. Hal ini bakal enyenangkan dan memuaskan Bella sampai titik darah penghabisan. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Bella terus mengocok-ngocokkan vaginanya. Kepalanya bergoyang dan tergolek-golek liar ke kanan-kiri. Desahannya semakin keras. “Auh.. Auh.. Emmfh..”, keringat di punggungnya mengalir deras. Mukanya berleleran peluh. Bella masih butuh waktu. Gesekan-gesekan vaginanya dinikmati detik demi detik. Bibir-bibirnya digigitnya sendiri. Dia ingin berlama-lama memanjakan vaginanya mendapatkan desakan-desakan penis perkasa. Dia tidak ingin cepat berlalu, dia menahan diri. Vaginanya berkedut, dia pelankan genjotannya. Bila sudah agak rileks dimulakannya lagi gesekan vagina-nya. Dia ingin menikmati semalaman vagina-nya dijajah penis langka milik Pak Tua ini. Dia tidak ingin kehilangan esempatan. Sudah setengah jam dia memanjakan vagina-nya. Lalu tiba-tiba Bella menghentikan kocokannya dan meregang, kepalanya melengkung dengan tangan mencengkeram dada Si Bapak kuat-kuat, badannya menggigil lalu menyentak-nyentak. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Orgasmenya telah tiba. “Ehh.. Ugghh.. Ehhmm.. Ohh.. Oohh.. Oogghh”, lolongnya dan.. Crott.. Croott cairan menyemprot dari lubang vaginanya. Seperti air kencing mengalir deras keluar. Jari-jari Si Bapak segera menyapu cairan itu dan menjilatinya. Dia ingin menikmati cairan kewanitaan Bella. Seperti apa rasa cairan seorang bidadari. “Enak nih pejuh Neng.” Si Bapak belum orgasme, lalu dengan cepat bangkit dan ditunggingkan Bella. Dengan amat nafsu disodoknya vagina Bella dari belakang. “Ohh.. Neng.. Ooh.. Oohh.. Oohh.. Neengg”, Si Bapak meracau histeris sambil memacu penisnya menembusi vagina dengan cepat dan bertenaga. Berkecipak-kecipak suara vagina Bella dihajar penis Si Bapak yang masih kokoh dan tegang itu. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Tangan kekarnya kadang menepuk pantat bahenol dan padat Bella sampai merah kulitnya, Bella meringis-ringis antara nikmat dan perih. Penderitaan kadang diserap wanita sebagai bagian dari kenikmatan. Terlebih secara bersamaan dirinya sedang tenggelam dalam birahi. Adonan yang menimbulkan kenikmatan ekstra. “Aauughh.. Aaugghh.. Eehhmggh..”, Bella mulai bergairah kembali. Vaginanya berdenyut-denyut menyekap penis Si Bapak sehingga dari mulut Si Bapak mencerocos erang-erangan kenikmatan. “Emmppoott.. Neengghh.. Ennaakk.. Bbanngeet.. Adduuhh.. eeehghh..”, semakin liar sodokan Si Bapak, sampai pantat Bella merah-merah karena hantaman-hantaman paha Si Bapak. Penis diayun untuk menyodok sedalam-dalamnya. Keduanya tercerai dari kesadaran kembali. Erangan dan ceracau terlontar di luar kendali akal. Aku mulai mendaki dan kupercepat kocokan tanganku, aku masih duduk dengan resleting terbuka. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Lalu kulihat dengan kasar Bella ditelentangkan dan diangkat satu kakinya yang kanan dan dipegangi. Lurus ke atas. Didekatkan penisnya kembali, dengan tubuh tegak sejajar kaki kanan Bella, Si Bapak memajukan dan menghujamkan penisnya lalu mulai mengayuh kembali. Keduanya berpacu kembali, berliter-liter keringat telah membanjir keluar dari tubuh keduanya sampai sprei basah kuyup. Tetek-tetek Bella tergoncang-goncang hebat. Si Bapak rupanya telah gemas dan geram dalam luapan birahi yang lebih mendera dari permainan pertama. Hunjaman-hunjaman penisnya kuat dan menyentak. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Bella entah telah berada di mana saat ini, mungkin dia sudah lenyap tenggelam di dasar samudera kenikmatan purba. Matanya hanya membeliak-beliak dengan erangan-erangan yang sudah semakin menghilang. Kenikmatan paling puncak telah tinggal sejengkal. Dan.. “Oohggh.. Aaghh.. Eegh.. Eeghh.. Eeghh.. Maauuhh.. Nyampaihh.. Neenngghh.” Bella tidak sempat menanggapi lagi karena dia sudah melampaui batas kesadaran, kenikmatan kali ini yang dia rasakan sudah tak terukur. Kata-kata sudah lenyap tak bermakna. Lalu keduanya bersamaan nyaring berteriak.. “Aahh!!”. Keduanya melengkungkan tubuh masing-masing ingin saling memasuki, Si Bapak mencoba menembuskan penisnya sampai ke tempat terdalam milik Bella, Bella ingin mencakup seluruh milih Si Bapak. Keduanya melipat dan saling mengatupkan dirinya dengan kuat-kuat ingin berpadu tak teruraikan. Orgasme sempurna telah dilampaui. Mereka menggelepar. Diam membisu masih meringkuk dan berpadu. 

Novel Dewasa (++) Part 2 Aku juga keluar sudah, sambil duduk di kursi. Pengalaman luar biasa yang pernah kualami. Kontras membuat kekuatan tak terkira. Kami lalu tertidur. Kira-kira jam 5 pagi aku terbangun karena terganggu suara berisik, rupanya kedua makhluk didepanku sedang memacu birahi kembali. Kulihat Bella sedang mengangkangi kembali Si Bapak, dengan posisi membelakangi. Bella telah menemukan sang pemuas nafsunya. Dia seolah ingin menghabiskan hidupnya disenggamai Si Bapak tua sang kuli pelabuhan yang kekar dan kokoh itu. Aku yakin mereka pasti akan sering bertemu setelah malam ini. Aku senang karena Si Bapak bakal tidak kesepian di ibukota ini bila sedang dilanda birahi. Sejak menikmati adegan Si Bapak dengan Eks Model itu membuatku keranjingan untuk mencoba mengadakan kembali acara-acara begini namun dengan aktor dan aktris yang berbeda.